Interdisipliner

Err okei, gw ga tau ini ide dan agenda siapa tapi gw baru dapet kabar kalau mahasiswa Teknik Telekomunikasi ITB sekarang udah bukan bagian dari HME ITB lagi. Hahay, ya berhubung gw udah alumni telkom dan HME ITB, gw cuman merasa lega waktu itu gw lulus sebagai anggota HME ITB sih, bukan bagian dari himpunan baru. Maklum, saat ini banyak alumni HME yang udah berkarir dan memegang posisi penting, jadi ini salah satu poin plus jadi anggota HME. Kalau sekarang ada himpunan baru dengan nama IMT-Signum buat anak-anak telkom dengan dasar berbagai tujuan dan kepentingan, ya silakan aja. Tentu saja ada untungnya seperti akreditasi jurusan telkom dan ada kucuran dana kemahasiswaan khusus untuk prodi, tapi ya ruginya juga banyak seperti misalnya himpunan ini belum ada alumninya, nanti waktu olimpiade bakal lemah, dan nggak ada divisi keprofesian yang udah established seperti divisi workshop dan divkom. Nanti juga misalnya bikin acara, buat cari sponsor mungkin nggak bisa menggunakan nama HME yang udah terkenal.

Eniwei, karena saat ini gw bekerja sebagai kuli lab research student, gw cuman mau memberikan pendapat dari sisi riset soal orang-orang yang pengen eksklusif cuma mau mendalami bidang keilmuannya tapi nggak aware sama bidang-bidang keilmuan lainnya. Kebetulan beberapa minggu yang lalu kita kedatangan profesor Gabriel M. Rebeiz, dan IEEE KAUST chapter berkesempatan buat ngobrol bareng santai sama beliau sambil sarapan. FYI ini biodata singkat beliau

DR. Gabriel Rebeiz is Distinguished Professor and Wireless Communications Industry Endowed Chair at UCSD: IEEE Fellow, Kuwait Prize for the Advancement of Science, IEEE Daniel Nobel Field Award, NSF Presidential Young Investigator, URSI Koga Gold Medal, MTT Microwave Prize (twice), MTT Distinguished Educator, IEEE Antennas and Propagation John D. Kraus Award and the Harold Wheeler Award, Amoco Teaching Award given to the best undergraduate teacher – University of Michigan, Jacobs ECE Teacher of the Year at UCSD. He is considered as one of the fathers of RF MEMS and tunable networks, silicon RFIC phased arrays, and mm-wave and THz antennas. Prof. Rebeiz has graduated 90 PhD students and post-docs, has written 650 IEEE publications, and has been referenced over 23,000 times with an h-index of 68. He is an advisor to Qualcomm, Intel, Toyota, and several of the large commercial and defense electronics and communication-system companies in the US.

Uwyeah, telkom banget kan? Nah, yang menarik adalah waktu ngobrol santai ini beliau bilang gini (paraphrasing yah):

Sebenarnya nanti kalau kalian sudah ke aplikasi nyata, kalian bakal butuh ilmu dari bidang lain. Misalnya kalau kalian pasang base station. Kalian tau masalah utama base station? Power supply. Bayangkan misalnya kalian pasang base station di tengah gurun, pasti sebisa mungkin kalian nggak ingin melakukan maintenance karena repot. Nah di sini kalian butuh ilmu dari bidang power. Begitu juga dengan kabel fiber optik bawah laut. Kalau kalian perhatikan sebagian besar kabelnya adalah untuk menahan tekanan air. Di sini juga yang lebih banyak berperan adalah orang-orang mechanical engineering dan chemical engineering.

Karena pernah kerja sebentar di vendor telco, gw manggut-manggut setuju karena gw tahu bahwa saat pemasangan base station memang banyak pihak yang terlibat. Untuk memasang power system dan juga sistem AC dan shelter, tentu nggak mungkin kan pakai ilmu telkom doang, tentu melibatkan civil engineer.

Gitu deh, makanya beliau juga mengencourage mahasiswanya untuk sekali-sekali mengambil kelas yang nggak ada hubungannya dengan bidang mereka, supaya aware sama masalah di bidang lain. Sementara gw tau ada dosen di ITB yang melarang mahasiwanya ngambil kelas yang menurut dia nggak ada hubungannya sama program studi.

Begitu juga dengan riset-riset high impact yang bisa masuk nature. Biasanya riset ini melibatkan beberapa disiplin ilmu (karena nggak mungkin memecahkan masalah kompleks dari satu sisi aja). Begitu juga dengan riset di lab gw. Untuk underwater communication misalnya, kita melibatkan communication theorist, orang yang bekerja di level sistem komunikasi, dan orang yang paham dengan device optoelektronik yang ada. Ada juga riset menarik di mana kita mencoba menggunakan laser untuk supply cahaya di indoor horticulture, yang tentunya melibatkan orang biologi untuk analisa respon tanaman terhadap lingkungan buatan ini.

Kembali ke masalah himpunan, sebenarnya HME merupakan wadah di mana mahasiswa-mahasiswa dengan background keilmuan yang serupa tapi tak sama bisa berkumpul dan bertukar pikiran. Dari sini, mungkin bisa lahir cara-cara penyelesaian masalah yang menggunakan sudut pandang unik hasil kombinasi beberapa bidang ilmu. Bahkan, nggak tertutup juga kan malah bisa jadi awal ide startup, dan ke depannya jadi bisnis? Sayang sekarang dari yang gw tahu, sejak tingkat dua anak-anak telkom dan elektro bahkan udah nggak sekelas lagi. Kalau ketemu aja jarang, pastinya akan susah untuk bisa bertukar pikiran kan?

Well anyway, apapun keputusan yang diambil oleh adik angkatan gw, semoga ke depannya memang bisa membawa yang terbaik. Toh apa yang gw tulis di atas ini belum tentu semuanya benar, dan ini cuma sudut pandang seorang alumni yang lulus udah setengah dekade yang lalu, terdampar di tengah gurun, dan gak terlalu berkecimpung di sistem komunikasi lagi. Back to growing nanowires then.

One thought on “Interdisipliner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s