Umroh pertama

Salah satu kelebihan kuliah di KAUST adalah bahwa kalau memang niat, ada shuttle bus yang siap membawa kita ke Mekkah tiap minggu. Jadi buat teman-teman yang emang niat, bisa aja kalian pergi umroh tiap minggu. Kebetulan 2 minggu yang lalu berkat blessing in disguise alhamdulillah gue pun bisa ke Mekkah dan pergi Umroh. BTW gw gak akan bahas tata cara umroh atau apapun yah soalnya banyak sumber yang jauh lebih sahih dari blog ini.

Alhamdulillah dapet kesempatan nginep di Pullman Zam Zam, satu gedung dengan Royal Clock Tower Mekkah. Walhasil kalau waktu solat tiba gw bisa literally menggelinding ke Masjidil Haram. Nah, yang ingin gw bahas di post ini adalah tentang Masjidil Haram itu sendiri. Selama ini di Indonesia, misalnya kalian liat gambar kakbah yang dijadiin hiasan dinding orang-orang, pasti kurang lebih seperti gambar di bawah ini:

Expectation. Sumber: wall-art.com

Di Masjidil Haram ada pelataran luas yang mengelilingi kakbah. Nah, sebenarnya Masjidil Haram sedang diekspansi supaya bisa menampung jamaah yang memang jumlahnya semakin banyak. Jadilah waktu gue ke sana, yang gue temukan adalah Masjidil Haram yang sedang direnovasi, dengan crane-crane di sekeliling kakbah dan platform tawaf 3 tingkat yang mengelilingi kakbah.

Reality. Sayang anglenya gak dari atas supaya keliatan lebih dramatis

Yah gitu deh, tanpa mengurangi rasa hormat tapi rasanya ya agak beda dari yang gue harapkan hehe😀. Kemudian ada sa’i antara Safa Marwah. Kalau dengar cerita Siti Hajar maka yang kebayang adalah dua bukit pasir panas di bawah matahari yang terik. Well, sekarang lebih mirip koridor-koridor di bandara, dengan lantai marmer dan penanda. Oh dan tempat sa’i nya sudah dibikin bertingkat. FYI bahkan di low season ini di mana tidak boleh ada pendatang dari luar Saudi yang melakukan umroh, masjidil Haram tetap ramai dengan umat muslim baik yang umroh maupun sekedar solat. Terakhir waktu salat Jumat, benar-benar terasa masjidil Haram penuh dengan manusia. Nggak kebayang kayak apa penuhnya kalau musim haji.

Sisi luar masjidil Haram waktu salat Jumat

Hahah dan tentunya, sebagai sedikit “oleh-oleh” sehabis umroh, waktu tahallul gue memotong rambut gue hampir habis :p

Botakk

Jadi begitulah cerita umroh pertama. Semoga nanti bisa ke sana lagi, berhubung pahala ibadah di Masjidil Haram jumlahnya berlipat lipat hihihi.

2 thoughts on “Umroh pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s