Googling aja?

Waktu saya kuliah S1 dulu, saya tahu ada beberapa orang yang berprinsip “googling aja!”. Jadi kalau dimintai tolong mengenai hal-hal yang berbau teknis, biasanya mereka bakal menyuruh si penanya untuk mencari saja di google, bukannya menjawab pertanyaan. Memang, dengan berkembangnya teknologi informasi saat ini, mencari jawaban atas segala pertanyaan semakin mudah untuk dilakukan. Tapi apa ini suatu hal yang baik?

Salah satu artikel yang pernah saya baca dulu menyatakan bahwa memang google membuat orang mudah mencari jawaban, tapi di sisi lain ini juga menurunkan interaksi antar manusia. Yaa sebagai contoh, misalnya si A nggak ngerti mengenai suatu permasalahan. Si A merasakan kebutuhan akan suatu jawaban. Opsi yang tersedia adalah bertanya kepada si B yang mungkin lebih mengerti, atau mencari sendiri saja di internet. Karena si A merasa malu-malu bertanya kepada si B, entah karena minder dengan bertanyajadi keliatan kurang kompeten, atau mungkin kurang dekat dengan si B, si A memutuskan untuk menggunakan internet saja.

Dari sini kelihatan kan, bahwa internet mungkin terlalu menjadi alternatif pencarian jawaban. Padahal salah satu kunci untuk bisa sukses di di kehidupan sosial masyarakat, tentunya adalah dengan menguasai cara berkomunikasi dengan individu lainnya. Dengan adanya search engine yang kelewat handal, orang-orang jadi malas berkomunikasi dengan orang lain untuk menanyakan jawaban atas suatu masalah.

Berikutnya adalah, sebenarnya dengan bertanya langsung kepada orang yang mengerti, kita jadi lebih paham mengenai masalah yang sedang kita hadapi dan bisa belajar dengan lebih cepat. Kata dosen perancangan RFIC saya, alasan mengapa orang Yahudi pintar (ini bukan postingan konspirasi) adalah karena kurikulum di sekolahnya menerapkan sistem tanya jawab. Di sini komunikasi berlangsung dua arah. Berbeda dengan kurikulum di Korea (dan saya rasa sebagian besar di Indonesia juga masih) di mana umumnya transfer ilmu itu satu arah.

Dan tentunya, dengan bertanya dan lebih cepat berkembang, kita bisa melakukan inovasi dengan lebih cepat ketimbang apabila kita harus menyelesaikan seluruh masalah dari hal-hal paling mendasar (meskipun pemahaman akan basic tetap sangat penting). Misalnya saya harus melakukan pengukuran, tentunya akan lebih cepat kalau saya menanyakan ke senior saya bagaimana mengoperasikan alat jika dibandingkan kalau saya harus baca manual alat dan penjelasan proseedur dari awal. Dari sini saya bisa misalnya lebih memfokuskan resource saya ke pengembangan objek yag harus saya ukur ketimbang harus belajar lagi tentang pengukuran.

Ada yang beranggapan bahwa mestinya kita tidak terus menerus menjawab pertanyaan dengan dalih “apa harus terus-terusan disuapi?”. Ya kalau menurut saya pribadi memang disuapi terus-terusan itu salah, tapi jangan sampai baru menolong mengambilkan sendok sudah dibilang menyuapi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s