Apa yang terjadi di malam tahun baru

Ini adalah catatan mengenai apa yang gw lakukan waktu malam tahun baru kemarin. Sebagai seorang yang masih muda, tentunya gw ingin malam tahun baru yang seru. Tapi, sebagai seorang anak baik (ceritanya), tentunya gw menjauhi hal-hal yang gak baik😀. Jadi, karena tahun lalu gw udah mendaki tangkuban perahu untuk melihat matahari terbit pertama tahun 2011, tahun 2012 ini gw memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya memang belum pernah gw lakukan: night riding di Jakarta menggunakan sepeda.

Anywho, kita ngumpul di rumah salah satu temen di wolter monginsidi gw jam 9, dan berangkat setelah nonton MU (yang kalah). Gw berangkat dari rumah gw di Pejaten dengan menggunakan sepeda, di mana temen-temen gw yang lain membawa sepedanya dengan mobil. Rute yang kita tempuh adalah dari wolter monginsidi ke bunderan HI via SCBD

Satu hal yang menyenangkan di sini adalah pada saat malam tahun baru, jalanan ke sana benar-benar sepi. Sepanjang SCBD jalanan benar-benar sepi, dan untuk pertama kalinya gw bisa bersepeda dengan tenang di Jakarta. Ada kejutan yang lebih menyenangkan lagi saat tiba di semanggi: Jalan Sudirman ditutup dan kendaraan bermotor tidak boleh lewat. Benar-benar luar biasa, ternyata telah terjadi sebuah car free night tanpa sosialisasi sebelumnya.

Sampai di bunderan HI sekitar pukul 11 malam, terlihat bahwa sudah banyak mobil-mobil yang ada di sana, diam gak bergerak dari bunderan sampai di depan UOB. Mengherankan, karena kita semua tahu bahwa mobil sudah pasti stuck dan gak bisa gerak sampai lewat jam 12. Tapi toh penduduk Jakarta tetap menjalaninya. Bahkan setelah gw perhatikan ada yang dengan pasangannya sedang asik cuddling dalam mobil. Ckckck.

Karena masih 45 menit, jadilah kita foto-foto. Bahkan Nicky sempet-sempetnya bawa mercon sendiri dan kita ikut menambah keributan di situ. Acara di bundaran HI ini sebenarnya bukan acara resmi, jadi seluruh kemeriahan di situ adalah penduduk Jakarta yang otomatis datang dan ikut menyalakan petasan.

Ini Bagas dan Nicky. Bisa dilihat bahwa sekeliling kita udah stuck, dan bahkan sepeda pun bawanya harus dituntun.

Ini Nicky yang ikut-ikutan nyalain mercon. Untung gak meledak di bawah, karena ternyata di samping kita ada yang merconnya meledak di bawah.

Dan ini adalah gw sendiri, dengan foto latar belakang kembang api di bunderan HI.

Kalau waktu kita berangkat ke bundaran adalah surga, maka baliknya adalah… hmm gak neraka juga sih, tapi mungkin lebih tepat disebut perang. Karena tahun baruan sudah selesai, maka semua mobil dan motor yang menumpuk di situ pergi dalam waktu bersamaan, dan trafik lalu lintas menjadi luar biasa penuh. Bahkan menyeberang jalan pun menjadi sebuah cobaan tersendiri bagi pesepeda seperti kami.

Dari situ, kami pergi ke kawasan menteng untuk makan sebentar. Banyak penjual makanan di situ, dan lumayan enak

Sebenernya rutenya gak sesimpel itu sih, karena kami sempat muter-muter dulu cari makan di tempat lain, sambil tak lupa menghindar dari mobil-mobil.

Dari situ kami balik ke Wolter Monginsidi dan sampai sekitar jam 2 pagi. Yah disinilah teman-teman gw kembali naik mobil, dan gw pulang naik sepeda. Masalahnya, rak sepeda temen Mirzy ga muat, dan mobil Honda Freed Nicky juga ga sanggup menampung. One last ride for the day. Gw sampai di rumah jam 3 pagi, dengan pantat sakit tapi hati puas karena udah sepedaan menyusuri ibukota malam-malam. I should do this more often.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s