Masih soal kuantitas

Kembali ke masalah bagaimana kuantitas pada ujungnya akan menjadi kuantitas, gw rasa gw masih mencoba menerapkan hal yang sama di blog ini. Oke, ini sedikit sharing saja mengenai bagaimana gw udah beberapa kali mencoba menulis isi blog ini dengan berbagai gaya yang berbeda.

Gw pernah mencoba menulis blog ini dengan postingan-postingan yang lumayan berat. Namun pada akhirnya waktu menulis terjadi fenomena seperti ini: backspace-rewrite-repeat. Yap, karena terlalu mengejar kesempurnaan, jadinya gw kebanyakan berkutat di bagian editing, dan esensi dari postingannya malah ga dapet. Ini susah.

Yang kedua adalah menggunakan bahasa Inggris, tapi mindsetnya masih sama yaitu pengen mengejar kesempurnaan. Ini lebih njelimet lagi karena sekarang selain gw harus berkutat masalah konten gw juga menginginkan grammar yang sempurna. Memang berguna untuk latihan writing, taip yang ada waktu nulis bukannya tambah seneng tapi malah makin mumet.

Yang ketiga, yaitu yang sedang gw coba praktekkan sekarang, adalah menulis sebanyak-banyaknya tanpa terlalu peduli dengan konten. Memang sih walhasil kadang ada konten yang isinya cuma satu paragraf aja, tapi gw enjoy mengerjakannya, tanpa terlalu banyak ambil pusing soal apakah konten ini bakalan bagus apa enggak, atau apakah akan mendapat view yang banyak atau enggak. Pokoknya apa yang mau gw share ya gw tulis aja di situ. Di sini jari-jari gw bener-bener kerasa bisa bergerak dengan cepat dan paragraf demi paragraf serasa muncul begitu saja.

Cara yang ketiga ini kalau ga salah juga dipraktekkan oleh Pak Budi Raharjo, yang berprinsip bahwa  kuantitas harus lebih banyak dulu, habis itu baru mikirin kualitas. Meskipun mungkin tanggapan pertama yang muncul adalah bahwa ini bisa membuat postingan gak berbobot, tapi dengan keadaan di mana si penulis bisa menulis tanpa beban, sebenernya si penulis bisa bereksperimen dengan berbagai macam gaya menulis yang berbeda-beda. Dan buat yang udah pernah baca buku Outlier tulisan Malcolm Gladwell, dijelaskan bahwa untuk mencapai keterampilan tertentu adalah dengan melakukannya selama minimal 10000 jam. Karena itu, kalau gw mau mentargetkan diri jadi blogger handal, mungkin harus kejar 10000 postingan mungkin?😀.

Well anywho, dalam belajar apapun juga, lakukan saja terus menerus tanpa takut salah, dan juga tanpa takut dikritisi oleh orang lain. Toh apa yang pada awalnya mungkin less than satisfactory, pada ujungnya sedikit demi sedikit akan bertambah baik dengan self improvement yang kontinyu. Tanpa disadari, mungkin kita sudah berjalan cukup jauh dari pada saat kita memulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s