Je A Ka A Er Te A

Jakarta. Sekarang gw sedang tinggal di Jakarta – di rumah –  karena tuntutan pekerjaan. Dan jujur saja, now I think I’m not too fond of Jakarta. Meskipun selama di Bandung gw sering ngata2in Bandung karena cuaca hujannya yang hina, jalannya yang rusak melulu, jalan satu arahnya yang ga jelas ujungnya, serta penduduknya yang suka lamban, Bandung lebih bersahabat. Yep, Jakarta keras, bung.

Dan gw baru beneran kerja di sini selama dua hari (KP gak diitung karena gw gabut). Dan hanya dalam dua hari itu gw merasakan teramat sangat santapan sehari-hari penduduk Jakarta: kemacetan. Macet. Pagi dan sore, jam berangkat dan pulang kantor. Fenomena yang menghabiskan banyak sekali jam yang seharusnya bisa digunakan baik untuk produktif maupun untuk rekreasi. Pergi ngantor jam 7, macet. Pulang kantor jam 6, macet. Heran, kenapa kemacetan ini dibiarin terus menerus padahal kalau misalnya gak ada macet mungkin produktifitas semua orang bisa meningkat, ditambah juga dengan menurunnya tingkat stres penduduk Jakarta. Dan seperti yang kita ketahui, menurunnya tingkat stres berarti orang akan less likely untuk melakukan tindakan kriminal. Jadi, mengurangi macet sama dengan mengurangi angka kriminalitas.

Tapi toh sampai sekarang Jakarta masih macet, dan gw tetep kena asap kendaraan saat naik angkutan umum. Benar-benar membuat gw bertanya-tanya, apakah yang namanya lulusan jurusan Planologi itu beneran ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s