Kenapa coba?

Tau Briptu Norman kan? Akhir-akhir ini anggota brimob yang tiba-tiba jadi ngetren karena menyanyikan lagu chaiyya chaiyya via youtube itu makin mendapat sorotan via media. Kalau akhir-akhir ini gw menyalakan TV di pagi hari, pasti sambil channel surfing dapat satu berita Briptu Norman. Pembahasannya juga entah kenapa banyak banget. Entah itu orangtuanya lah, pacarnya lah, Norman sakit gara-gara keliling lah, kaitan teror bom sama aksi Norman lah. Semua dibahas, mulai dari aksinya sendiri sampai semua yang terkait sama dia. Seolah-olah gak ada sumber berita penting yang layak buat diangkat, sampai berita mengenai Norman harus dibesar-besarkan oleh media massa.

Briptu Norman

Hal ini tentunya mengingatkan kita dengan fenomena Shinta Jojo tahun lalu. Dua orang remaja yang lip-sync mengiringi lagu keong racun juga sempat jadi berita besar selama dua minggu kalau tidak salah. Gw inget, waktu gw KP, di deket meja gw ada TV dan berita keong racun bisa dikatakan mengisi pagi-pagi gabut gw. Serius, gw liat berita itu sampai enek. Gimana mungkin dua orang remaja yang lip-sync di youtube bisa jadi berita nasional? Yang lebih aneh lagi mereka dapat beasiswa (CMIIW).

Dan ini membuat gw bertanya. Kenapa berita-berita ga penting bisa mendapatkan sorotan sangat besar dari media massa, dan masyarakat sendiri juga terkesan heboh banget terhadap hal-hal gak penting seperti itu.

Sekarang coba gw tanya, kenal Samratul Fuady atau Ashlih Dameitry? Gw jamin mayoritas ga tau (kecuali tentunya anak-anak HME yang baca blog ini). Mereka adalah dua orang teman gw yang menjuarai Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest 2011 di Hartford, Connecticut (berita lengkapnya bisa lihat di sini). Bisa dilihat dari beritanya, ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, di mana mereka bertanding melawan tim-tim yang datang dari seluruh penjuru dunia. Bahkan, tim-tim yang berasal dari negara maju pun ada – bahkan dari MIT. Namun, teman-teman gw ini melalui segala keterbatasan, semisal sulitnya mendapatkan komponen di Indonesia, minimnya fasilitas dll. dan akhirnya berhasil menjadi juara dunia di dalam bidang yang mereka berdua tekuni, yaitu di bidang robot. Sungguh, ini merupakan salah satu pencapaian anak bangsa dalam menghadapi berbagai macam keterbatasan dan meraih apa yang dicita-citakan mereka lewat kerja keras dan ketekunan.

Tim Robot

Namun, coba kita lihat apa tanggapan bangsa? Selain di lingkup ITB dan mungkin segelintir pihak lain, apresiasi yang diberikan kepada teman-teman yang sudah berjuang membawa nama bangsa masih minim. Mungkin memang sempat disorot media massa, tapi entah kenapa kesan yang gw dapatkan adalah mereka tidak diangkat menjadi sebuah berita yang luar biasa maupun spesial, dan tak ubahnya seperti kejadian-kejadian yang silih berganti melewati layar berita. Well, kelihatannya memang apresiasi Indonesia terhadap putra-putranya yang berprestasi masih minim.

I’m not going to mince my words here. Memang, di Indonesia yang namanya kaum intelek itu jumlanya masih relatif lebih sedikit, dan mayoritas masyarakatnya tidak ingin mencerna konten-konten yang mendidik. Lebih banyak yang lebih senang mengikuti gosip kehidupan orang lain yang kalau ditelusuri hampir nggak ada hubungannya dengan kehidupannya sendiri, ataupun seperti yang dikatakan oleh salah seorang senior saya, lebih senang dengan berita di mana ada orang yang mendapatkan keberuntungan secara instan tanpa harus berusaha (bedah rumah, uang kaget, dll.). Masih sedikit yang tertarik dengan prestasi nyata yang didapat lewat kerja keras. Dan dari sini, media justru melahap kebebalan masyarakat, dengan menyuguhkan konten-konten yang tidak mendidik. Jadilah, media semakin membodohi masyarakat yang sudah bodoh, bukannya malah membantu mendidik mereka.

Maka, kalau banyak orang Indonesia yang pergi ke luar negeri untuk berkarya, jangan tega-teganya mengatakan mereka berkhianat atau apa. Ketidakpedulian masyarakat terhadap mereka adalah salah satu contoh bagaimana manusia berkualitas di sini kurang diapresiasi, dan sungguh adalah wajar bagi manusia untuk mencari tempat di mana mereka dapat diapresiasi/

One thought on “Kenapa coba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s