Hidup Cuma Sekali, Jadi Gantilah Rute Pulang Anda

Kepundungan dimulai dari sebuah percakapan di lift gedung KPPTI Indosat sepulang KP, antara gue dengan cowok fitnes hobi ngajak dugem – mungkin dunia gemulai –  (CFHND). Ini nyambung dengan kejadian nista di mana gue nonton Letters to Juliet tanpa bawa pasangan.

Percakapan dimulai dengan ngomongin film apa yang akan ditonton selanjutnya

Gue: Pokoknya gak mau nonton Eclipse

CFHND : Halah gitu aja lo nonton Letters to Juliet

Gue: Yah beda kali, itu serial Twilight sering dikata-katain sebagai serial kosong

Pada poin ini, kelihatannya CFHNDG sangat kesal idolanya sang serigala berdada bidang, Jacob, gue katain.

CFHND: Alah hipokrit lo, hipokrit.

Entah kenapa, mungkin pada hari itu planet-planet sedang berada dalam posisi sejajar, sehingga gue jadi jengkel banget. Padahal biasanya gw main kata-kataan sama temen-temen gw juga biasa aja. Mungkin karena yang ngatain gw adalah si CFHND yang suka ngomong ihiks. Jadilah saking keselnya gue pulang duluan ninggalin temen-temen yang laen.

Entah takdir apa yang menimpa gue hari itu, gue memutuskan untuk pulang naek busway aja. Apa mau dikata, nasib tak bisa ditolak. Di shelter Dukuh Atas, terjadi kekurangan busway koridor 6 jurusan Ragunan, sehingga bahkan setelah setengah jam menanti sebuah jawaban bus, tak ada bus yang kunjung datang. Tambah kesel karena kejadian di lift tadi dan antrian ini, gue meninggalkan shelter dengan antrian yang sudah mencapai jembatan penyeberangan dukuh atas. Satu-satunya tujuan gue saat itu adalah naik bus yang ke arah Bendungan Hilir dan bersantai di Plaza Semanggi sambil menunggu jam pulang kantor lewat dan juga ngilangin rasa kesal yang membara ini. Di perjalanan, gue menemukan Rizki Mirzy yang ternyata sejurusan dengan gue. Konon, setelah gue pergi dari antrian, bus koridor 6 datang berbondong-bondong. Ah takdir, salah apakah daku?

Antrian bus ke arah Bendungan Hilir ternyata cukup ramai. Jadi, dengan berbekal ambisi gue pengen kurus, tercetus satu ide. Kenapa gak jalan kaki aja sekalian ke Thamrin? Sekalian bisa liat Jakarta jam pulang kantor dari street level, plus ilangin lemak. Syalalala bunuh dua burung dengan satu batu.

Dan gue pun berjalan menyusuri Jalan Thamrin di saat sedang macet-macetnya, dengan segala hiruk pikuk, kebisingan, dan juga polusi udara akibat ratusan kendaraan yang berada di situ. Sungguh, dunia akan lebih baik seandainya sepeda motor tidak pernah diciptakan.

Kira-kira kayak gini

Tapi serius deh kalau Thamrin gak macet mungkin anda akan merasa sedang berjalan-jalan di Singapura. Berjalan menyusuri Thamrin dengan tempo agak cepat dikarenakan rasa kesal yang masih tersisa di dalam dada, gue memperhatikan segala kebisingan yang terjadi di sekitar gue. Yak, meskipun bila Anda berada di dalam mobil saat itu dan terjebak dalam macet anda bisa dipastikan akan memulai absen kebun binatang, gue yang memperhatikan jalan dari trotoar mengalami pengalaman unik yang belum pernah gue rasakan. Dari sisi jalan, gue bisa melihat ribuan umat Jakarta yang lalu lalang. Banyak sekali orang yang kelihatannya memiliki rumah yang terletak jauh dari daerah perkantoran, dan kemudian pulang pergi demi pekerjaannya. Masing-masing orang punya kisah hidup sendiri, dan datang dan pergi dari panggung yang bernama kota Jakarta ini. Sungguh, gue melihat sebuah dinamika yang sangat menarik, dan terus bergerak. Inilah energi kota Jakarta.

Oh dan setelah menikmati dinamika tersebut dan tiba di Plangi, kaki gue gempor dikarenakan sepatu kerja bukanlah sepatu yang cocok buat dipakai jalan jauh. Masih kesel, dimulailah serangkaian kegiatan yang membuat gue seperti anak ilang di mall sendirian

  1. Beli teh kotak di Giant
  2. Solat Maghrib
  3. Naik ke Foodcourt dan makan sendirian. Szechuan mie hotplet ga enak.
  4. Ngintip-ngintip ke bioskop liat apakah ada film yang bagus. Ternyata Letters to Juliet udah diganti sama Despicable Me. Andai kemaren udah diganti, tentu gue gak akan nguap-nguap sementara cewek sebelah gue menangis tersedu-sedu. Sempat tercetus ide nonton sendirian karena masih jengkel, tapi setelah dipikir-pikir mendingan nonton sama temen-temen.
  5. Disuruh mama beli dolar singapura buat adek gue yang besok mau jalan-jalan ke Singapura
  6. Beli Papabunz buat orang serumah
  7. Setengah delapan pengen pulang. Tapi ternyata masih rame jam pulang kantor, dan metromininya masih full. Balik lagi ke dalem.
  8. Gramedia. Satu komik Bleach ga ada isinya dan bisa dihabiskan dalam waktu 5 menit lewat dikit.
  9. Akhirnya jam pulang kantor lewat dan gue pun pulang

Sekian! Sungguh, melepas diri dari rutinitas dan bertindak ngasal (asal gak kelewatan ngasalnya) mengikuti impuls-impuls pikiran ternyata bisa menyenangkan dan memberikan pengalaman baru. Hahaha mungkin kapan-kapan kalau lagi kesel lagi gue bakal keluyuran gak karuan di Bandung!😀

-Ditulis dengan kondisi kaki lecet-lecet, otak masih hangat baru pulang sampai di rumah, dan untungnya udah gak kesel.

9 thoughts on “Hidup Cuma Sekali, Jadi Gantilah Rute Pulang Anda

    1. maklum ini kan dari sudut pandang pengendara mobil di Jakarta Gil.. coba tiap nabrak motor dapet poin, udah gw tabrakin satu-satu tuh motor😀

      1. mang maen GTA….

        Gw mo nyoba posting opini gw tentang macet dan solusinya nih. Besok tapi.. ngantuk euy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s