Bangsa Gosip

Siapa sih yang tidak tahu insiden video porno yang akhir-akhir ini menyebar di Indonesia? Film porno yang dianggap mirip dengan tiga orang selebritis di Indonesia telah menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan masyarakat. Selama lebih dari dua minggu, orang-orang ramai membicarakan akan hal tersebut baik pada saat berbincang-bincang secara langsung maupun menggunakan situs jejaring sosial semisal twitter dan facebook.

Memang, wajar-wajar saja bila orang kemudian heboh mengenai masalah dua video yang beredar tersebut, karena kedua wanita yang ditampilkan dalam video tersebut mirip dengan dua aktris Indonesia yang tergolong cantik. Yang membuat saya miris adalah bagaimana video ini kemudian menyedot sebegitu banyak sumber daya dan perhatian publik, dan juga bagaimana publik kemudian menanggapi video tersebut.

Dari sebuah artikel yang saya baca di surat kabar, disebutkan bahwa proses penyebaran video tersebut telah menghabiskan trafik internet hingga belasan Terabyte. Bayangkan! Mengapa sebuah konten yang bisa dikatakan bersifat negatif dapat menghasilkan sebegitu banyak trafik, sementara mungkin konten-konten yang bersifat pendidikan bahkan tidak mendekati angka itu?

Bagaimana masyarakat Indonesia menyikapi munculnya kasus video tersebut juga mengecewakan bagi saya. Kasus ini diekspos terus menerus, sedemikian rupa sehingga acara-acara di TV mulai dari acara gosip hingga acara berita serius terus saja difokuskan kepada kasus sepele semacam ini. Di Twitter pun, secara fakta orang-orang terus membicarakan kasus ini hingga akhirnya menjadi trending topic dengan judul ‘Ariel Peterporn’. Sungguh ironis, di saat banyak isu yang lebih berharga untuk dibicarakan – misalnya masalah dana aspirasi, kenaikan TDL, dll yang tentunya hanya merupakan segelintir permasalahan dari negeri ini.

Memang, pelaku-pelaku dalam film itu bisa dikatakan salah karena tindakannya. Namun, yang saya tidak suka adalah bagaimana sebagian masyarakat mencerca, bahkan beberapa sampai berinisiatif melaporkannya pada polisi agar dijadikan kasus. Heran, apa orang-orang ini sedemikian tidak ada kerjaannya hingga membesar-besarkan kasus semacam ini?

Bagian paling miris dari semua kasus ini adalah bagaimana saya menemukan bahwa kasus ini kemudian menyebar hingga ke luar negeri! Sebuah link dari teman saya menunjukkan bagaimana kasus ini muncul di website dari New York Times. Bahkan, di Jepang pun dikatakan bahwa film porno ini sudah mulai beredar. Ini semua karena ekspos yang berlebihan baik dari media maupun masyarakat. Sungguh menyedihkan, mengapa hal ini yang kemudian menjadi terkenal dari Indonesia. Bukan bagaimana teman-teman saya mendapat juara 4 di kontes robot internasional. Bukan bagaimana para mahasiswa berhasil mendesain mobil hemat bahan bakar. Bukan juga bagaimana teman-teman informatika berjuang di Imagine Cup. Sungguh menyedihkan, ternyata kita hanya baru sampai level bangsa yang suka bergosip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s