Lulus S1, ngapain?

Ememe, jadi postingan saya kali ini berisi mengenai apa yang akan saya lakukan setelah lulus nanti (meskipun masih setahun lagi InsyaAllah). Banyak orang yang mengatakan bahwa selepas lulus nanti, mereka akan langsung bekerja. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa setelah lulus nanti mereka akan mengambil S2. Gak ada yang salah kok, toh hidup itu pilihan, jadi konsekuensi dari jalan yang ditempuh oleh masing-masing orang tetap ada.

Bagaiman dengan saya sendiri? Saya sendiri selalu dinasehati seperti ini oleh orang tua saya:

Kerja dulu, habis itu baru ambil S2. Kalau langsung S2 tanpa kerja nanti susah, soalnya belum punya pengalaman tapi gajinya harus lebih besar dari lulusan S1.

Kalau dipikir-pikir sih benar juga. Walhasil waktu diwawancara oleh Ochi-sensei dalam rangka seleksi mahasiswa program research, saya menjawab dengan nada yang serupa sehingga yang dipilih adalah Mita yang menjawab bahwa dia akan langsung melanjutkan S2 (meskipun Alhamdulillah kemudian Ochi-sensei tetap mempertimbangkan untuk membiayai saya dalam program researchnya).

Memang, untuk laki-laki menurut saya opsi yang ada tentang apa yang akan dilakukan selepas lulus nanti lebih terbatas dibandingkan dengan opsi yang dimiliki oleh perempuan. Loh kok bisa? Padahal selama ini biasanya disebut-sebut bahwa laki-laki yang memiliki peluang lebih banyak.

Yah, sudut pandang ini mungkin hanya sebuah sudut pandang dari saya yang masih prematur, didapat setelah mengobrol sedikit dengan teman-teman saya yang perempuan mengenai apa yang akan dilakukan setelah lulus. Usut punya usut, ternyata kita bisa memandangnya seperti ini:

Laki-laki itu nantinya jadi pencari nafkah dalam keluarga, jadinya dia terikat dengan kewajiban mencari nafkah. Sementara, wanita lebih leluasa karena bisa bergantung dengan suaminya sehingga dia dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tanpa harus terlalu khawatir mengenai mencari penghidupan

Sekali lagi, ini hanya kesimpulan sementara yang saya dapatkan, jadi kalau ada yang tidak setuju kita diskusi saja, oke? Toh saya tidak seperti Karno Giantono yang hobi push-up dan sedikit-sedikit ngajak berantem itu. Saya orangnya cinta damai kok😀

Lantas, saya akan menempuh jalur apa ketika saya lulus nanti? Ayah saya – setelah melihat track record akademik saya – menyarankan kepada saya untuk mengambil karir yang berkaitan dengan research. Sayang katanya apabila bakat saya berakhir di belakang meja kantor. Di dalam hati, saya juga mengiyakan hal ini setelah melakukan kerja praktek dua minggu. Bahkan departemen yang terkait dengan engineering di sini pun lebih ke arah operasional, dan hanya sedikit ilmu di perkuliahan yang digunakan.

Lantas, bagaimana saya menyiasati keadaan ini? Well, salah satu caranya mungkin adalah masuk di bagian R&D dari sebuah perusahaan. Atau mungkin bisa lebih baik lagi, dengan cara masuk ke perusahaan vendor luar negeri.

Yah, itu mungkin hanyalah sedikit dari jalan yang mungkin saya tempuh selepas lulus nanti. Semoga saya diberikan yang terbaik oleh Tuhan dan dapat menggunakan bakat yang telah diberikan kepada saya dengan sebaik-baiknya supaya bisa bermanfaat bagi masyarakat

One thought on “Lulus S1, ngapain?

  1. setuju! hahaha, baru sekarang ni cewe bisa lebih bebas dibanding cowo *di luar kenyataan cewe bisa pake rok dan celana sementara cowo cuma bisa pake celana, kalo ga mau dikatain bencong!

    kami mendukungmu, dit, menjadi researcher! semoga sukses dan bermanfaat😀

    tapi ingat jangan sampai sia2kan bakat untuk bersantai, mungkin bisa juga jadi tester kasur..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s