Buka puasa

Kemaren buka puasa, berhubung diundang sama temen, jadinya makan super buanyak. Jadilah mulai kemaren gw dan istri sepakat untuk buka puasa pake korma aja dan gak makan malem, berhubung rasanya eneg banget makan segitu banyak.

Oh dan menurut CNN, binge eating abis buka puasa merupakan salah satu penyebab obesitas, terutama di daerah timur tengah.

PhD work pt 1

Keuntungan masuk KAUST memang banyak, mulai dari sisi materi di mana kita dapat stipend yang gede, housing gratis, dibiayain pulang. Buat yang muslim pun ada keuntungan tambahan dari sisi ibadah seperti bisa umroh dengan mudah dan bisa haji tanpa harus antri sebelumnya. Meskipun begitu, tetap saja tujuan utama kuliah di KAUST ini adalah untuk belajar dan melakukan riset. Meskipun kentungan lainnya banyak, tetap saja keuntungan utama yang harus diperhatikan adalah sarana riset kelas dunia dan dana riset yang melimpah ruah. Sebagai perbandingan, seorang mahasiswa ITB yang mau menggunakan SEM bisa mengantri di nomor urut 300, sementara di KAUST ada 7 SEM (kalau nggak salah), sehingga bisa dibilang kalau gw lagi senggang dan in the mood for SEM, gw tinggal booking dan turun ke bawah untuk menggunakannya.

Entah mengapa kalau gw perhatikan yang minat ke KAUST justru pengen keuntungan lainnya, baru mikirin keuntungan dari sisi risetnya. Ya mungkin nggak salah juga sih berhubung KAUST masih tergolong muda (baru 6 tahun) jadi dari sisi pamor tentu masih belum seterkenal univ-univ top 10 dunia. Tapi percayalah, dari sisi fasilitas riset kita sudah bisa dibilang sebanding dengan univ-univ tersebut.

Yang ngeselin adalah kadang ada aja orang yang nanya anehnya kelewatan. Misalnya baru-baru ini ada mahasiswa sastra arab yang nanya apa dia bisa lanjut S2 di KAUST karena dia merasa salah jurusan dan kayaknya lebih seneng kalo meneliti di lab. Errr lo kira kuliah sastra sama engineering itu sama? Terus kalo lo kuliah sastra kenapa lo bisa dapet gambaran kalo kerja di lab lebih seneng? Jangan-jangan lo kira kerjaan di lab tuh cuman nyampur sugar,spice, and everything nice terus jadi powerpuff girls gitu? Apa jangan-jangan dikira semacam mythbusters gitu kali yah. Pengen kayang rasanya.

Supaya KAUST bisa lebih menarik kandidat yang beneran tertarik bidang riset di science and technology dan bukannya kandidat random ntahpapa, gw akan mencoba sharing apa aja yang gw kerjain di sini. Dan supaya rekan-rekan gw di KAUSTINA nggak heran kenapa gw weekend ada di lab atau kenapa gw punya sleeping bag di lab.

Photonics Lab

 

Lab gw tersayang, because home is where the lab is :p. Info selengkapnya bisa dilihat di photonics.kaust.edu.sa, tapi di sini akan gw jelaskan singkat tentang apa yang gw kerjain. Secara garis besar, yang kita kerjain adalah

  1. Semiconductor growth. Di sini kita menumbuhakan semikonduktor nitride menggunakan molecular beam epitaxy (MBE) dan di masa depan akan ditambah dengan metal organic chemical vapor phase deposition (MOCVD). Ini adalah bahan dasar untuk device optoelektronik. Saat ini yang ditarget adalah material dengan wavelength di ultraviolet dan visible.
  2. Device fabrication. Seperti namanya, ini adalah bagian fabrikasi device, di mana kita menggunakan material entah yang kita tumbuhkan sendiri di nomer 1, dapat dari kolaborator, atau beli material komersial dari perusahaan di luar sana untuk kemudian dijadikan device. Device bisa berupa photodetector, laser, LED. Selain active device, kita juga melakukan fabrikasi passive optical component seperti misalnya grating.
  3. Optical communications. Saat ini yang sedang kita kerjakan adalah visible light communication di mana ke depannya tidak menutup kemungkinan bohlam yang digunakan untuk menerangi ruangan bisa digunakan juga untuk mengirim data ke gadget kita, mirip seperti wifi. Selain itu kita juga melakukan riset underwater communications untuk transmisi data kecepatan tinggi menggunakan laser, yang cukup penting mengingat di dalam laut gelombang elektromagnetik diredam.

Untuk gw sendiri, gw ada di nomor 1 dan 2, di mana gw menumbuhkan material nanowire gw sendiri dengan menggunakan MBE, dan kemudian melakukan fabrikasi device. FYI untuk nomer 1, dibutuhkan ketabahan, ketegaran hati, dan kemampuan menahan air mata (atau biasanya kalo gak ada orang gw kerja sambil nyanyi lagu f*ck you nya Lily Allen) mengingat MBE adalah mesin keparat yang sulit untuk digunakan dan dimaintain. Nomer 2 adalah bagian favorit gw, karena di sini kreatifitas bermain, dan banyak hal lucu yang bisa dilakukan kalau kalian menemukan metode-metode menarik dari paper-paper di luar sana. Curhatan akan dilakukan di postingan berikutnya.

Random 20160302

Kalo udah ngantuk atau lelah emang sebaiknya jauh-jauh dari eksperimen. Mendingan istirahat dulu aja baru lanjut daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Paling ringan datanya ketuker. Paling apes ya tewas.

*Renungan abis nggak sengaja numpahin HF*

Interdisipliner

Err okei, gw ga tau ini ide dan agenda siapa tapi gw baru dapet kabar kalau mahasiswa Teknik Telekomunikasi ITB sekarang udah bukan bagian dari HME ITB lagi. Hahay, ya berhubung gw udah alumni telkom dan HME ITB, gw cuman merasa lega waktu itu gw lulus sebagai anggota HME ITB sih, bukan bagian dari himpunan baru. Maklum, saat ini banyak alumni HME yang udah berkarir dan memegang posisi penting, jadi ini salah satu poin plus jadi anggota HME. Kalau sekarang ada himpunan baru dengan nama IMT-Signum buat anak-anak telkom dengan dasar berbagai tujuan dan kepentingan, ya silakan aja. Tentu saja ada untungnya seperti akreditasi jurusan telkom dan ada kucuran dana kemahasiswaan khusus untuk prodi, tapi ya ruginya juga banyak seperti misalnya himpunan ini belum ada alumninya, nanti waktu olimpiade bakal lemah, dan nggak ada divisi keprofesian yang udah established seperti divisi workshop dan divkom. Nanti juga misalnya bikin acara, buat cari sponsor mungkin nggak bisa menggunakan nama HME yang udah terkenal.

Eniwei, karena saat ini gw bekerja sebagai kuli lab research student, gw cuman mau memberikan pendapat dari sisi riset soal orang-orang yang pengen eksklusif cuma mau mendalami bidang keilmuannya tapi nggak aware sama bidang-bidang keilmuan lainnya. Kebetulan beberapa minggu yang lalu kita kedatangan profesor Gabriel M. Rebeiz, dan IEEE KAUST chapter berkesempatan buat ngobrol bareng santai sama beliau sambil sarapan. FYI ini biodata singkat beliau

DR. Gabriel Rebeiz is Distinguished Professor and Wireless Communications Industry Endowed Chair at UCSD: IEEE Fellow, Kuwait Prize for the Advancement of Science, IEEE Daniel Nobel Field Award, NSF Presidential Young Investigator, URSI Koga Gold Medal, MTT Microwave Prize (twice), MTT Distinguished Educator, IEEE Antennas and Propagation John D. Kraus Award and the Harold Wheeler Award, Amoco Teaching Award given to the best undergraduate teacher – University of Michigan, Jacobs ECE Teacher of the Year at UCSD. He is considered as one of the fathers of RF MEMS and tunable networks, silicon RFIC phased arrays, and mm-wave and THz antennas. Prof. Rebeiz has graduated 90 PhD students and post-docs, has written 650 IEEE publications, and has been referenced over 23,000 times with an h-index of 68. He is an advisor to Qualcomm, Intel, Toyota, and several of the large commercial and defense electronics and communication-system companies in the US.

Uwyeah, telkom banget kan? Nah, yang menarik adalah waktu ngobrol santai ini beliau bilang gini (paraphrasing yah):

Sebenarnya nanti kalau kalian sudah ke aplikasi nyata, kalian bakal butuh ilmu dari bidang lain. Misalnya kalau kalian pasang base station. Kalian tau masalah utama base station? Power supply. Bayangkan misalnya kalian pasang base station di tengah gurun, pasti sebisa mungkin kalian nggak ingin melakukan maintenance karena repot. Nah di sini kalian butuh ilmu dari bidang power. Begitu juga dengan kabel fiber optik bawah laut. Kalau kalian perhatikan sebagian besar kabelnya adalah untuk menahan tekanan air. Di sini juga yang lebih banyak berperan adalah orang-orang mechanical engineering dan chemical engineering.

Karena pernah kerja sebentar di vendor telco, gw manggut-manggut setuju karena gw tahu bahwa saat pemasangan base station memang banyak pihak yang terlibat. Untuk memasang power system dan juga sistem AC dan shelter, tentu nggak mungkin kan pakai ilmu telkom doang, tentu melibatkan civil engineer.

Gitu deh, makanya beliau juga mengencourage mahasiswanya untuk sekali-sekali mengambil kelas yang nggak ada hubungannya dengan bidang mereka, supaya aware sama masalah di bidang lain. Sementara gw tau ada dosen di ITB yang melarang mahasiwanya ngambil kelas yang menurut dia nggak ada hubungannya sama program studi.

Begitu juga dengan riset-riset high impact yang bisa masuk nature. Biasanya riset ini melibatkan beberapa disiplin ilmu (karena nggak mungkin memecahkan masalah kompleks dari satu sisi aja). Begitu juga dengan riset di lab gw. Untuk underwater communication misalnya, kita melibatkan communication theorist, orang yang bekerja di level sistem komunikasi, dan orang yang paham dengan device optoelektronik yang ada. Ada juga riset menarik di mana kita mencoba menggunakan laser untuk supply cahaya di indoor horticulture, yang tentunya melibatkan orang biologi untuk analisa respon tanaman terhadap lingkungan buatan ini.

Kembali ke masalah himpunan, sebenarnya HME merupakan wadah di mana mahasiswa-mahasiswa dengan background keilmuan yang serupa tapi tak sama bisa berkumpul dan bertukar pikiran. Dari sini, mungkin bisa lahir cara-cara penyelesaian masalah yang menggunakan sudut pandang unik hasil kombinasi beberapa bidang ilmu. Bahkan, nggak tertutup juga kan malah bisa jadi awal ide startup, dan ke depannya jadi bisnis? Sayang sekarang dari yang gw tahu, sejak tingkat dua anak-anak telkom dan elektro bahkan udah nggak sekelas lagi. Kalau ketemu aja jarang, pastinya akan susah untuk bisa bertukar pikiran kan?

Well anyway, apapun keputusan yang diambil oleh adik angkatan gw, semoga ke depannya memang bisa membawa yang terbaik. Toh apa yang gw tulis di atas ini belum tentu semuanya benar, dan ini cuma sudut pandang seorang alumni yang lulus udah setengah dekade yang lalu, terdampar di tengah gurun, dan gak terlalu berkecimpung di sistem komunikasi lagi. Back to growing nanowires then.

Random rant 20160210

Maybe it’s just jealousy looking at how my former classmates are having fun at first world countries. I remember that I got accepted at TU Delft, but I was unable to continue because of lack of scholarship (and as a boy I would be too embarassed to use my parents’ money to fund my postgraduate study). Nowadays it seems that anyone can go abroad thanks to the LPDP scholarship.

Not that I’m complaining with my current life (but Saudi can really use more tourist attraction in addition to their religious sites), but I think I need to go out and travel for a bit. Oh yeah, then it’s jealousy because other people can just go travel somewhere over the weekend while I’m pretty much stuck either inside the compound, or in Jeddah where public transport is dismal.

But at least they can’t guilt trip me if I refuse to go back to Indonesia since I’m not taking even a single penny from the government to fund my study.

I can’t stop, don’t care if I lose

This song is dedicated for my research

Remember when I dove into the crowd
And I got a bloody knee under my skin
A mark from wiping out
It brings back the memories

Every bone’s been broken
But my heart is still wide open

I can’t stop, don’t care if I lose
Baby, you are the weapon I choose
These wounds are self inflicted

I’m going down in flames for you
Baby, you are the weapon I choose
These wounds are self inflicted
One more thing I’m addicted to

With each scar there’s a map
That tells a story, what a souvenir of
Young love’s like jumping out an airplane
Riding a tidal wave on an ocean of emotion
My heart rips me wide open

I can’t stop, don’t care if I lose
Baby, you are the weapon I choose
These wounds are self inflicted

I’m going down in flames for you
Baby, you are the weapon I choose
These wounds are self inflicted
One more thing I’m addicted to

And I cover up these scars
We’ll make it, we’ll make it but we break it
And I can’t stop seeing stars
Let’s hope not die whenever you’re around
Around

I can’t stop, don’t care if I lose
Baby, you are the weapon I choose
These wounds are self inflicted

I’m going down in flames for you
Oh, you are the weapon I choose
These wounds are self inflicted
One more thing I’m addicted to, oh

No, I can’t stop
Oh, I can’t stop
No, I can’t stop

And I’m going out in flames
Oh, I’m going down in flames
Baby, you are the weapon I choose
Baby, you are the weapon I choose

007

Iseng baca budget science di Kanada (because why not), dan bahwa Kanada udah gak di posisi 10 besar bidang research and develoment. Karena penasaran negara mana aja yang termasuk di posisi 10 besar dan berapa persen dari GDP yang mereka gunakan untuk R&D, gw pun pergi ke wikipedia. Ini list negara berdasarkan jumlah pengeluaran di bidang R&D.

1

Gak terlalu mengejutkan sih siapa aja yang termasuk 10 besar. Lumayan jelas ya kenapa Korsel melesat maju satu dekade ini.  Oh dan jangan salah, India udah ngeluncurin roket ke Mars, jadi mereka gak cuman produksi film Bollywood aja.

And then there’s this country

2

Semacam James Bond, 007