KAUST dan interview

Page dari anak-anak Indonesia di KAUST, KAUST-INA, pernah memposting pertanyaan ke follower page tersebut: misalnya kalian sedang wawancara admission KAUST dengan HR dan ditanya apa alasan kalian memilih KAUST, bukan universitas di US, apa jawaban kalian? Follower-follower page tersebut pun memberikan jawaban. Ada satu dua jawaban yang bagus, tapi sebagian besar kurang lebih seperti ini: “Ingin bisa pergi umroh, karena lebih nyaman dengan Saudi yang Islami, karena tanah suci, nggak cocok dengan US yang liberal”, dan jawaban-jawaban lain yang kurang lebih senada. Sekarang, alasan pribadi seperti ini sih jelas sah-sah saja, tapi apa kalian yakin mau ngomong seperti itu ke interviewer?

Sekarang begini loh, interview itu kan menyesuaikan antara apa yang diinginkan oleh interviewer dan kandidat mahasiswa KAUST. Sekarang coba kita lihat posisi KAUST saat ini:

  1. Ini adalah kampus yang iklimnya lebih kebarat-baratan. Mesjid di kampus memang ada, Mekkah Cuma 1.5 jam perjalanan, tapi karena banyaknya jumlah mahasiswa asing, maka iklim kehidupan dalam kampus bukan kehidupan islami banget seperti yang dibayangkan beberapa orang. Kalau bisa gue bilang, kurang lebih seperti Jakarta. Bebas, tapi tetap ada batasan nggak sampai seperti kehidupan di US misalnya. Kalau kalian mengharapkan iklim konservatif seperti pria dan wanita dipisah dan semua wanita menggunakan abaya ya sorry to burst your bubble.
  2. KAUST sedang berusaha menaikkan pamornya. Ini berarti KAUST butuh orang yang bisa berkontribusi di bidang riset – tentu saja artinya punya potensi akademik yang tinggi. Selain itu, setelah si mahasiswa lulus, berarti dia akan membawa nama KAUST sebagai salah satu alumninya. Diharapkan si mahasiswa ini akan mendapatkan posisi bergengsi setelah lulus, berkontribusi besar bagi masyarakat, dan turut mengharumkan nama KAUST. Intinya dia harus punya visi yang bagus setelah lulus. Maklum lah, secara kasar investasi KAUST di tiap mahasiswanya bisa mencapai beberap Milyar Rupiah, sudah sewajarnya kan si mahasiswa berkontribusi kembali ke masyarakat?

Nah kembalike alasan yang umum disampaikan orang di atas. Kira-kira misalnya saya jadi si interviewer, apa kesan saya bila saya mendengar alasan di atas? Alasan-alasan di atas lebih terdengar seperti: “Tolong masukkan saya ke KAUST karena saya ingin masuk KAUST.”

  1. “Karena bisa umroh” – Kalau begitu nggak usah di KAUST kan? Universitas lain di Saudi juga ada. Jangan-jangan motivasi ke KAUST hanya untuk umroh dan haji – setelah kebagian haji terus terbang entah ke mana? Ini mirip dengan orang-orang yang ingin kuliah ke Korea karena senang nonton drama Korea. Berkesempatan pergi umroh tentu bagus untuk mahasiswa muslim, tapi untuk KAUST sendiri nggak ada keuntungan langsung. Makanya untuk mahasiswa asing sampai saat ini salah satu porsi terbesarnya adalah dari Cina, karena mereka sangat produktif dalam riset. Keshalehan tidak jadi pertimbangan tim interview ya.
  2. “US terlalu liberal” – Dan KAUST juga jauh lebih liberal dari Saudi. KAUST mencari orang yang bisa berbaur dan berkontribusi dengan warga asing lainnya. Karena itulah ada bagian community life dan arts office. Kita bisa berkontribusi dengan ikut self directed grup, ikut volunteer, atau cukup dengan jadi warga yang baik. Di lab pun kita harus bekerja dengan orang-orang yang datang dari seluruh penjuru dunia, dan nggak jarang latar belakang budaya dan nilai yang kita anut dengan mereka jauh berbeda. Jangan malah ketika sudah masuk ke sini terus jadi culture shock dan bikin keributan. Misalnya, karena KAUST terlalu liberal terus complain di social media. Jangan. Kalau kondisi iklim liberal US bikin kalian ragu, bisa jadi interviewer akan beranggapan kalian nggak bisa beradaptasi dengan kondisi majemuk KAUST.

Kebayang kan, misalnya interview dijawab dengan jawaban di atas, kita nggak memaparkan kontribusi macam apa yang bisa kita berikan dengan kuliah di KAUST. Gue sendiri udah nggak terlalu ingat interview gue, tapi menurut gue alur jawaban yang tepat adalah:

“Saya menggeluti bidang A, dari bidang A ini saya punya cita-cita untuk mencapai B. Saya lihat di KAUST ada prof C yang risetnya sejalan dengan saya, dan beliau setuju menampung saya (harus udah punya prof dulu biar bargaining powernya lebih bagus!). Selain itu, fasilitas D, E, F (ini PR ya cari fasilitas yang relevan dan kalau bisa cuma KAUST yang punya) di KAUST akan sangat membantu riset saya.”

Jawaban di atas bisa ditambah dengan bumbu macam-macam lagi, misalnya:

  1. Lingkungan KAUST yang majemuk menyiapkan berkarir di dunia internasional. (Menyinggung karir setelah lulus itu bagus, karena semakin bagus karir kita setelah lulus nanti, makin terangkat juga nama KAUST. Ini juga salah satu alasan pada umumnya mahasiswa lulusan KAUST tidak dianjurkan mengambil postdoc di KAUST, supaya menyebar ke luar sana.)
  2. Kesempatan bagus untuk berkarir di dalam Saudi, karena Saudi sedang dalam transisi ke knowledge-based economy dan mulai banyak perusahaan yang menjalin kerja sama dengan KAUST (ini PR ya, cari yang pas dengan bidang)
  3. Program entrepreneurship di KAUST yang membantu untuk mendirikan startup.
  4. Karena KAUST sedang berkembang pesat jadi ini kesempatan berkontribusi.

Begitulah menurut gue. Sekali lagi, coba pikirkan bagaimana selama interview kita bisa meyakinkan interviewer bahwa dengan menerima kita, KAUST akan mendapatkan keuntungan yang sebanding dengan investasi yang ditanamkan pada kita. Bukan cuma karena masuk KAUST akan membuat kita senang.

Advertisements

MBE, riwayatmu kini

Haha, jadi ditulis aja ya di sini berhubung kadang setiap kali gue ke lab, salah satu yang bikin mumet dan memenuhi hati gue dengan self-doubt gak lain adalah si molecular beam epitaxy (MBE). Buat yang nggak tahu ini benda apaan, singkatnya MBE adalah reaktor yang digunakan untuk menumbuhkan kristal semikonduktor dengan kondisi ultra high vacuum. Di sini kristal semikonduktor bisa ditumbuhkan layer demi layer, sehingga pengguna MBE punya kendali lebih banyak soal komposisi kristal yang dihasilkan.

Dimulai dari berita baiknya, tentu saja keuntungan menggunakan MBE:

  1. Ultra high vacuum = ultra high purity. Kristal yang dihasilkan minim kontaminan.
  2. Growth rate rendah = ini sebenarnya pedang bermata dua, tapi karena growth ratenya yang rendah, ketelitian lapisan kristal yang dihasilkan bisa sampai level monolayer.
  3. Temperatur rendah = karena ini proses physical deposition, tidak dibutuhkan temperatur tinggi untuk memecah prekursor, seperti misalnya pada proses MOCVD. Karena karakter ini jugalah MBE jadi bisa digunakan untuk substrat yang mungkin tidak dapat digunakan dalam MOCVD.

Dannn, tentu saja sayangnya alat ini lebih banyak mudharatnya:

  1. Ringkih = karena banyak poin kritikal pada alat ini untuk menunjang ultra high vacuum, apabila salah satu saja bermasalah maka akan ada ancaman alat ini harus distop untuk maintenance. Berdasarkan pengalaman saya, kegagalan alat yang pernah terjadi sejauh ini: water line mampet, logam cair tumpah dari crucible sehingga effusion cell short circuit, liquid nitrogen line mampet, software crash, water line bocor ke dalam chamber, heating element putus, transfer arm nggak pas, vacuum bocor, dan berbagai hal lain yang membawa kita ke poin berikut:
  2. Maintenance butuh waktu lama = karena sistem ini merupakan sistem ultra high vacuum, maka kalau saja misalnya ada satu bagian di dalam reaktor yang harus diganti akan butuh waktu lama. Tiap siklus maintenance bisa dengan mudah memakan waktu lebih dari satu bulan. Sekedar ilustrasi kasar, ini adalah yang dilakukan misalnya grup kami harus mengisi ulang source material: ramp down cell temperature (1-2 hari), tunggu nitrogen cair kering (1 hari), matikan sistem (1/2 hari), buka chamber reaktor dan lakukan apa yang harus dilakukan (1-??? Hari), tutup reaktor dan mulai pompa lagi sampai ultra high vacuum (1-2 hari), leak check (1/2 hari) kalau leak check gagal kembali ke step sebelumnya, matikan lagi sistem (1/2 hari), lepas semua bagian MBE yang tidak bisa di-bake (1/2 hari), pasang baking jacket dan pastikan koneksinya benar (1/2 hari), baking hingga 180 C (minimal 1 minggu sampai pressure di dalam chamber cukup rendah), leak check lagi.
  3. Lamban = ya, ini pedang bermata dua. MBE luar biasa lamban sehingga sulit untuk menumbuhkan semikonduktor dengan layer yang tebal (misalnya untuk buffer layer).

Yah, intinya ini adalah equipment yang sangat sulit untuk dihandle. Akibatnya orang sering memplesetkannya sebagai most breakable equipment. Lalu, apakah ini alat yang berguna? Secara pribadi sih menurut gue ini alat lebih cocok digunakan dalam setting riset – ada Nobel prize yang dimenangkan lewat riset menggunakan alat ini – namun dalam industri, terutama bidang III-nitride mungkin ini bukan alat yang tepat. Selain itu, tentu saja tergantung minat pengguna alat ini. Buat orang seperti gue yang senang apabila hasil karya gue bisa memberi manfaat bagi orang lain atau jadi solusi nyata, gue nggak begitu menikmati alat ini, karena kegunaannya yang masih sangat jauh dari aplikasi nyata. Apabila orang yang membaca ini senang dengan riset di bidang material atau basic science (atau masokis), by all means please go ahead. Tapi bila kalian lebih senang device atau riset terapan seperti gue, mungkin banyak riset lain yang lebih cocok.

Falling, rising

DSC09193

To be successful is not to never be discouraged from setbacks, but to be discouraged by setbacks and try again not long after. If you can’t get up by yourself, seeking external help is perfectly fine. Just find the way most suitable for you to get back up on your feet. When something made me feel down, I used to try to make sense of things by turning to religion. But I also noticed that whenever I start doing this, I always end up feeling a massive amount of contempt, mainly because it’s just impossible to make sense of things from down here. I decided that this time instead, I won’t do that. I will just accept that sh*t happens. That things happen for a reason, and sometimes the reason is that I’m an idiot. I’ll take responsibility for my action without blaming anyone or anything.

Perspective

DSC09221

One of the thing that I’m doing here at KAUST is photographing Danbo, since there are restrictions on what can be photographed and uploaded to social media. By shifting my focus to smaller objects as Danbo’s prop, I managed to frame a miniature world around Danbo, which would otherwise be unnoticed by us.

Then it kinda made me think. For Danbo a small lawn would be similar to a savannah. For me, a PhD candidate, KAUST is a university with top notch research facility, great for pursuing top quality research. But if we shift the perspective, what would the non-research employee think of KAUST? How would the student’s spouses see KAUST? How would KAUST appear to Saudi visitors? What about the migrant workers who come in the morning, working to keep the facilities running? Some prospective students see KAUST only as a shortcut to Makkah. How would the person next to me see it, even?

Exploring Saudi – shipwrecked

DSC08965

With the absence of tourist visa in Saudi Arabia (for now at least), the tourism industry here is pretty much stagnant. Apart from Makkah and Madinah, there is not much to see around here. Public transport is nonexistent, so if you don’t have a car you’re pretty much stuck. It’s possible to join a tour to some of the more exciting places, but they usually cost a lot (again, this is because there is no tourism hence not much competition going on). Last weekend, I decided to visit the Al-Fahad shipwreck, located about one hour drive from Jeddah (meaning 2 hours from KAUST). The shipwreck is quite interesting – although it’s still quite far from the shore. Apart from that, not much going on on the beach. If it was in Indonesia, it would have been full of peddlers.